Jawa - Pulau Padi
by Manazati on Nov.22, 2009, under Indonesia, jawa, Jawadwipa, Nusantara, sejarah

Di Pulau Jawa ini juga berdiri kerajaan besar Majapahit. Majapahit tercatat sebagai kerajaan terbesar di Nusantara yang berhasil menyatukan kepulauan Nusantara meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Dalam catatan Wang Ta-yuan, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan kunjungan biarawan Roma tahun 1321, Odorico da Pordenone, menyebutkan bahwa istana Raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata. Menurut banyak pakar, pulau tersubur di dunia adalah Pulau Jawa. Hal ini masuk akal, karena Pulau Jawa mempunyai konsentrasi gunung berapi yang sangat tinggi. Banyak gunung berapi aktif di Pulau Jawa. Gunung inilah yang menyebabkan tanah Pulau Jawa sangat subur dengan kandungan nutrisi yang di perlukan oleh tanaman. Raffles pengarang buku The History of Java merasa takjub pada kesuburan alam Jawa yang tiada tandingnya di belahan bumi mana pun. “Apabila seluruh tanah yang ada dimanfaatkan,” demikian tulisnya, “bisa dipastikan tidak ada wilayah di dunia ini yang bisa menandingi kuantitas, kualitas, dan variasi tanaman yang dihasilkan pulau ini.”
Kini pulau Jawa memasok 53 persen dari kebutuhan pangan Indonesia. Pertanian padi banyak terdapat di Pulau Jawa karena memiliki kesuburan yang luar biasa. Pulau Jawa dikatakan sebagai lumbung beras Indonesia. Jawa juga terkenal dengan kopinya yang disebut kopi Jawa. Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Jawa sangat pas untuk budidaya kopi. Jauh lebih baik dari kopi Amerika Latin ataupun Afrika. Hasil pertanian pangan lainnya berupa sayur-sayuran dan buah-buahan juga benyak terdapat di Jawa, misalnya kacang tanah, kacang hijau, daun bawang, bawang merah, kentang, kubis, lobak, petsai, kacang panjang, wortel, buncis, bayam, ketimun, cabe, terong, labu siam, kacang merah, tomat, alpokat, jeruk, durian, duku, jambu biji, jambu air, jambu bol, nenas, mangga, pepaya, pisang, sawo, salak,apel, anggur serta rambutan. Bahkan di Jawa kini dicoba untuk ditanam gandum dan pohon kurma. Bukan tidak mungkin jika lahan di Pulau Jawa dipakai dan diolah secara maksimal untuk pertanian maka Pulau Jawa bisa sangat kaya hanya dari hasil pertanian.
by: javanese - manazati
Sumber:
- http://atlantis-lemuria-indonesia.blogspot.com
Seminar Nasional ’Mengungkap silsilah dan situs Kerajaan Demak’
by Manazati on Nov.22, 2009, under Demak, Kerajaan Demak, Letak Keraton Demak, sejarah, Sejarah Demak, Silsilah, Situs

Seminar nasional dengan tema ’Mengungkap silsilah dan situs Kerajaan Demak’ , digelar Gabungan Eksponen dan Ormas (Gelora) di Hall DPRD, siang tadi. Seminar yang dibuka Wakil Bupati Demak Drs HM Asyiq tersebut menghadirkan nara sumber, Prof Dr Wasino Mhum (Guru Besar Sejarah UNES), Prof Dr H Ahmad Sutarmaji (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Drs H Masrum M Noor MH (Kepala PA Jakarta), dan R Sumito Joyo Kusumo (pemerhati situs keraton Demak).
Koordinator panitia Mulyani M Noor mengatakan, seminar tersebut diharapkan menjadi sebuah media komunikasi yang mendukung upaya penggalian pengetahuan tentang ’keberadaan Kerajaan Demak’. ”Sejauh ini keberadaan Kerajaan Demak masih simpang siur. Dalam berbagai seminar yang pernah diselenggarakan hanya terbatas keberanian berasumsi atau prediksi 'letak Keraton Demak'. Makanya melalui kegiatan ini kita berupaya menggali lebih banyak masukan dari berbagai pihak,” ujarnya.
Menurut Prof Dr Wasino Mhum, Guru Besar Sejarah UNES, penggalian arkeologis tentang situs Kerajaan Demak belum pernah dilakukan. Hal itu disebabkan jalan masuk keraton Demak dan situasi lingkungannya yang telah berubah menjadi pemukiman padat. Selain itu juga karena hingga kini belum diketemukannya bekas-bekas istana Demak, baik yang berupa batu, kayu maupun logam.
Meskipun belum ada bukti-bukti arkeologis, lanjut Wasino, bukan berarti pencarian situs istana Demak tidak dapat dilakukan. Ada dua cara yang bisa mendukung upaya tersebut. Pertama, dengan cara menelusuri catatan ’sejarah tentang lokasi istana’, dan kedua, melalui kajian analogi terhadap tatanan kota-kota Kerajaan Islam Jawa di masa lampau. ”Data ’sejarah’’Demak’ Keraton Demak pertama kali diungkap pelancong Portugis Tome Pires. Ia mengatakan, merupakan sebuah kerajaan yang terletak di tepi sungai dan tidak jauh dari pantai. Sungai tersebut penting bagi kegiatan pelayaran dan perdagangan,” ungkap Wasino.
Kunjungi: Javanese - tourdejava
Sumber: demakkab.go.id
Labels
..tanya mbah 'Google' disini
Kawulo
- Manazati
- Demak, Indonesia
- Saya pria, lulusan Teknik Arsitektur PTS di Semarang tahun 2005. Saya bodoh didunia studi yang saya geluti, namun karena kebodohan saya itu..saya jadi berniat lebih serius mempelajari budaya, nilai-nilai arsitektur bangsa sendiri, sebagai wujud penghargaan kawruh atas leluhur.
