Demo Blog

Javanese Alphabet (Aksara Jawa)

by Manazati on Nov.22, 2009, under ,

Ujar-ujar kuno dalam bahasa Jawa ini mengandung arti bahwa budi pekerti seseorang atau suatu bangsa (Jawa) akan terlihat melalui bahasa yang dituturkannya. Bahwa kemudian bahasa jawa itu menjadi kurang populer dikalangan masyarakat jawa itu sendiri bukanlah suatu alasan untuk melupakan apalagi membuang budaya jawa nan adiluhung ini.


Sejak gelaran KBJ IV di Semarang pada taun 2006, usaha untuk meregistrasi aksara jawa agar masuk dalam standar unicode mulai intensif di laksanakan. Tim khusus Registrasi Unicode aksara jawa berhasil dibentuk dengan dikomandani oleh Ki Hadiwaratama (Bandung), Ki Sudarto HS (Jakarta) dan Ki Bagiono Sumbogo (Jakarta). Kerja keras yang telah dikerjakan selama kurang lebih 3 tahun ini akhirnya membuahkan hasil dengan telah diterimanya aksara jawa sebagai aksara yang diakui dalam standar unicode pada tanggal 1 Oktober 2009. Sejajar sudah kedudukan aksara jawa (hanacaraka) dengan aksara-aksara tradisional di dunia lainnya seperti aksara arab, aksara hiragana, aksara kanji, aksara devanagari dan lainnya yang telah diakui terlebih dahulu. Sebenarnya dalam aksara-aksara nusantara, aksara jawa merupakan aksara ke-5 yang diakui Unicode setelah aksara Bugis, aksara Bali, aksara Rejang dan aksara Sunda. Semoga dengan diakuinya aksara Jawa sebagai bagian aksara tradisional di dunia menambah semangat kita selaku pemilik aksara Jawa untuk kembali mempelajari, menggunakannya sekaligus melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari.. Semoga.!
(http://hanacaraka.fateback.com)


Aksara Jawa yang mungkin sudah kita lupakan??
Dipostingan ini saya ingin menyegarkan ingatan kita akan aksara Jawa yang dulu pernah diajarkan saat kita masih dibangu SD (Sekolah Dasar). Atau mungkin sama sekali belum pernah mempelajari?(...waduuuhhh;)

Angka Jawa:







'Munine Aksara Jawa Carakan'


Cara mengejanya klik disini


Pasangan Konsonan :









*Font 'Honocoroko' bisa di download dengan klik disini


Babad Jawa AjiSaka (kisah dibalik terciptanya Aksara Jawa)
Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka.Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan.Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. klawan punggawane, Dora, tumeka ing Medhangkamulan. Heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.
Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu, huruf-hurufnya adalah 'HaNaCaRaKa' diatas.


Smoga bermanfaat & mari kita uri-uri 'Aksara Jawa' warisan leluhur ini.

by: javanese - manazati

Sumber:
'mbah Google'
http://hanacaraka.fateback.com
http://www.omniglot.com
0 komentar more...

0 komentar

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Yuk, Bisnis PULSA... Daftar GRATIS disini:

Daftarkan BLOG anda disini:

Adsense Indonesia

Karna 'TAK KENAL MAKA TAK SAYANG' kiranya perlu saya mengenal anda. Silakan masukkan Email Anda

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Ada kesalahan di dalam gadget ini

mBah Goggle Search

Google Books